Selasa, 09 Juli 2019

Tentang Amanah Ibu

Bagaimana aku bisa melupakan pesan beliau? pesan yang mungkin terngiang-ngiang selalu.
Semasa beliau hidup terkadang perbedaan pendapat pun sering terjadi antara aku dan ibu. Banyak sekali apa - apa yang sudah aku ceritakan kepada ibu. Tentang, mimpiku, cita-cita ku, tentang study S2 ku. Ya, aku selalu bermimpi apakah mungkin aku melanjutkan study ku? tapi aku gak mau bayar.. aku mau mencari beasiswa kata ku pada ibu saat itu. 

Tapi ibu selalu saja tidak setuju beliau bilang "Emang S1 tidak cukup?"
aku hanya diam.. ketahuilah bu, meski aku bodoh tapi aku tidak ingin terlihat bodoh didepan anakku nanti, didepan orang-orang nanti. Aku tahu ini berat dan bagi ku ini gak mungkin, tapi bagi Allah ? semua itu mungkin.. ingin rasanya aku melawan dan menjelaskan padanya. Tapi, aku tak mampu. sungguh.

"Gini toh nduk, wong wedok ki jane ojo suwi-suwi gek ndang nikah, kalau wes enek jodohe, nanti kasian anak-anakmu pie kamu wes tuo"

entah apa semua ibu khawatir seperti ini atau ngga? atau hanya ibu ku aja? sebenarnya yang ngajak nikah juga udah ada bu di masa perkuliah ini. Tapikan bapak ibu ngelarang aku untuk fokus dulu. Dan pada akhirnya aku yang ditinggal nikah lagi kan haha. Gak papaaaa.. anggep aja bukan jodohnya. Simple kan.


Undangan banyak banget cuy..

Tidak menutup kemungkinan sehabis lebaran ini banyak sekali undangan yang ku terima. Mulai dari teman kampus dan teman smp.
Lantaskah aku terbebas dari pertanyaan "Kapan nikah?" Oh tidak furgusoo haha terkadang pertanyaan itu maklum di tanyakan kok. Tapi, dari pada menanyakan "Kapan nikah?" ada baiknya diganti dengan "Cepet nyusul ya.. atau gue doa'in lu cepet nyusul sob" KAN ENAKKK #LohKokNgeGas hahahaaha

Ibu.. yang aku rindu saat ini adalah hadirmu tuk menemani masa-masa dan moment bahagiaku. Wisudaku, semua yang sudah ku rencanakan. Dengan mudah Allah hancurkan. Aku tidak pernah kecewa telah memeliki rencana seperti ini. Tapi, ku yakin Allah mempunyai rencana indah untuk mu kelak. Kini lelah mu telah usai, kehawatiranmu akan tidak memiliki uang esok hari sudah selesai. Berbahagialah di sana, kan ku kirimkan doa untukmu selalu. Kan ku ingat kau di hati dan tak akan pernah ku lupa.. 

Dan sejujurnya bu. aku terlalu canggung untuk membicarakan masalah cinta kepada bapak. Setidak beraninya itu karena ku tahu kriteria bapak. Terkadang aku mencobanya ku perkenalkan seorang laki-laki padanya. Namun, ada saja yang membuatnya tidak tertarik. Bu, aku harus apa? bapak bilang jangan terlalu dipikiran semua akan ada waktunya. Tetap ikhtiar dan tahajud jangan dilupa. Ya, aku percaya ridho orang tua adalah ridho Allah juga. Ketika bapak khawatir dan menanyakan "Siapa dia?" ku lihat raut wajahnya sedikit berbeda. Di situ terlihat takut, khawatir namun memang pada kenyataanya bapak harus melepaskan anak perempuannya.

Bu, aku juga bilang kepada bapak apakah beliau mengizinkan aku untuk melanjutkan pendidikan? Beliau berkata dengan nada mengeluh aku tahu bapak tidak pernah setuju dengan hal ini. Tapi, bapak tahu bahwa putrinya ini keras kepala, ia tidak akan pernah menyerah meski harus gagal.

Bu, hingga saat ini aku masih terus ikhtiar, karena sesuatu yang terburu-buru itu tidaklah baik. dan aku mengetahui betul menikah bukan lah masalah siapa yang membuatmu nyaman untuk sesaat, tapi menikah adalah siapa yang akan menemanimu dikala, sakit, sedih, susah, senang bersama hingga akhir hayat. 
Contohnya seperti bapak dan ibu. terima kasih karena telah banyak mengajarkan moral kehidupan ini. menjadikan ku pribadi yang sederhana, selalu bersyukur dan selalu mencoba menjadi yang terbaik dan lebih baik dari kemarin, telah menjadikanku wanita yang kuat dalam artian tidak gampang mengeluh.

Terima kasih..


Jakarta, 9-7-2019 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komunitas Warung Blogger

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan