Senin, 05 Februari 2018

Ketika hidupMu menyedihkan, lihat dulu ada yang lebih-lebih sedih ternyata

Jadi begini. Baru aja aku menulis tentang kehidupanku yang amat menyedihkan. Baru banget pulang dari rumah sakit tadi terus ada seorang ibu-ibu datang dan mengucapkan salam. Kebetulan diruang tamu emak sedang duduk dan menyambut baik seseorang yang ia kenal.

Sebut saja namanya Budeh Lastri
Ya, budeh lastri datang ke rumah pas ketika aku dan emak pulang dari rumah sakit dengan raut muka lelahnya nampak garis keriput terlihat jelas diwajahnya.

"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam"
"eh, budeh enek opo de?" tanya emak dalam bahasa jawa
"Ngene, aku arep nyilih uang karo Anak mu. Arep kanggo nang dokter. Sesuk aku arep nang fatmawati enek kemotrapi tapi aku ra nduwe ongkos buat jalan."
"Oalah de, piro arep nyilihe?"
"Sak jane cuma lima puluh hewu"
"Yowes. iki tak pinjemi wae, kirain sampe jutaan aku ra enek de kalau jutaan"
"Ora, wong cuma kanggo ongkos jalan kok"
"Yowes, iki gowonen. Moga-moga iso untuk ongkos sesuk"
"Iyo, maturusuwun sanget iki bu. Habis anakku yo ngegojek rung dapet uang karena hujan."
"Yuhalaah jan.. mesakno deh, yowes kui gowonen ya de"
"Iyo tenan aku maturusuwun sanget iki."
"Iyo deh, kulo eneke kui, samimawon deh"

Lalu, bude lastri berlalu pergi dan meninggalkan rumah kami. tak lama aku keluar dari kamarku, emak yang memanggil nama ku namapaknya ia serius ingin berbicara.

"Ndah,.. Ndah.."
"Apa mak?"
"Sini deh!"
"Ia apaan?"
"Itu tadi budeh lastri kesini"
"Terus?"
"Dia kan sakit kanker payudara ya. Nah, tadi kesini mau pinjem uang sama kaka iparmu."
"Buat?"
"Katanya buat ongkos besok ke rumah sakit fatmawati. anaknya ngojek tapi belum dapet uang katanya. Terus besok dia mau kemo traphy di fatmawati gak ada ongkos. Mama pikir dia mau pinjem berapa eh gataunya 50 rb yaudah mama kasih pinjem aja."
"ternyata masih ada yang lebih susah Ndah, suaminya stroek, anaknya ngojek, dia sakit kanker payudara."
"......" aku diam merenung
"Ya, Allah. lagi-lagi aku merasa ditampar. Tapi, gimana ya? saat keadaan kalap akupun suka mengeluh, orang tua pun masih suka mengeluh juga. Ternyata ada yang lebih dibawah dari kita."
disaat keluargaku sedang mengalami kekurangan semua perhiasan kami jual hanya untuk mencukupi makan, kadang itupun aku masih mengeluh karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Seharusnya aku tak patutu menceritkan ini semua disini. Hanya saja aku ingin membuka kaca mata kalian semua mengenai betapa berharganya pertolongan kita untuk seseorang yang sedang membutuhkan. Kalau aku dan keluarga masih bisa menjual perhiasan untuk sekedar mencukupi makan tanpa memikirkan rumah yang ngontrak walau kami tinggal dirumah yang sempit. Tidak memikirkan oprasi dan biaya orang yang stroek. Coba saat itu semua dibalik? Rumah ngontrak, suami stroek, anak hanya tukang ojek, lalu sakit kanker payudara. Begitu berat beban yang dipikul Subhanallah. Semoga Allah menguatkan keluarga tersebut.

Sungguh tak kuasa aku menahan air mataku untuk jatuh. Menulis dan mengingat kisah ini sama dengan teman yang pernah ku tolong waktu itu. Ya, seandainya saja dia baca. Tapi aku rasa tidak mungkin. Karena BLOG ini cukup privat dan mulai sekarang aku tak ingin menyebarkan link pada siapapun. Syukur-syukur ada yang baca. Jika tidak cukup kujadikan diary ku saja yang bisa kubaca sewaktu tua nanti. Kalau ada umur juga pasti.

Ya Allah satu pinta ku, selama aku bisa membantu orang yang kesulitan berilah selalu kesempatan itu. "Hidup ku memang tak kaya raya, miskin juga tidak, tapi saat kaya namun takut miskin karena berbagi itu salah besar!" Semoga Allah selalu memberikan ketabahan bagi setiap hambanya. Memberikan rezeki yang cukup untuk hambanya. Memberikan kesabaran tanpa melebihi kesabaran hambanya.

Untuk emak yang telah menularkan sidat tidak tegaan dan jujur aku pun terhadap teman juga tak tegaan.Terima kasih. Semoga kalian teman tahu diri aja sudah ditolong nantinya haha.


sekian....



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komunitas Warung Blogger

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan