Kamis, 14 Desember 2017

(JANGAN) MENGAJI

 (JANGAN) MENGAJI





Note: Harap pembaca berpikir terbuka akan cerita ini. Karena mohon maaf tidak bermaksud untuk menyindir pihak mana pun.

“Neng, gak usah pakai jilbab panjang dan mengaji terlalu banyak! Apa lagi pakai pakaian panjang hitam. Nanti kamu bisa menjadi seperti orang-orang yang di televisi” ujar ibuku dengan nada cukup serius, tatkala kami sedang menonton berita di salah satu stasiun televisi sore hari itu. Aku berpura-pura memperhatikan televisi dengan serius dan mengiyakan nasihat ibuku, seraya mengangguk-anggukan kepala.
“Neng! Dengerin gak ibu ngomong?” tegur ibu.
“Iya, Bu..” jawabku malas.
“Pokoknya kamu tidak boleh banyak ikut-ikutan acara rohis atau lembaga-lembaga apalah itu di  kampus! Banyak aliran sesat di sana, neng” omel ibu.
“Setiap malam minggu kita hanya membaca Al-Quran bersama dan membahas sejarah Nabi saw, serta ­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­-­-- belum selesai aku menjelaskan ibu sudah menukas, “Sudah ibu bilang kan! Jangan terlalu banyak mengaji dan ikut-ikut kegiatan keagamaan seperti itu, awas nanti kalau kamu sampai ikut-ikutan aliran sesat seperti ISIS.”
Entah mengapa rasanya bosan ketika berulang kali dinasehati seperti ini. Ini sudah keberapa kalinya semenjak aku bergabung dengan majelis dan lembaga dakwah kampus. Ibu selalu memberikan statmen dan pandangan buruk terhadap kegiatan yang sedang ku ikuti.  Berbagai alasan seperti Aliran sesat, seperti teroris lah, awa-awal memang baik memberi beasiswa tapi nanti otak kita dicuci dan menjadi pengikut mereka lah.”
Tak hanya Ibu bahkan bapak pun menaruh curiga terhadap ku dan terhadap kegiatan yang sedang aku ikuti. Sesekali ia bertanya tak seperti ibu, bapak bertanya lebih kepada logika dan mengandalkan kepercayaanku.
“Kamu ini sebenarnya ikut kegiatan apa sih? Suka pulang malam” tanya bapak berjalan mendekatiku.
“Aku ikut kajian kampus pak, setiap habis pulang kuliah aku menyempatkan untuk duduk di masjid kampus dan itu biasanya selesai jam 7-an. Makanya sampai rumah hingga larut malam.”
“Bener?, bapak Cuma pesen aja sama kamu.. sekrang kamu udah bisa mikir mana yang bagus kamu ambil mana yang ngga. Kalau seandainya ada keganjalan dikegiatan yang kamu ikuti. Kamu harus keluar!”
“Iya, pak.. aku juga tahu.. tapi apa bapak sama ibu gak senang lihat perubahan yang sudah aku alami ini?, Bapak dan Ibu bisa lihat aku kan sudah tak pernah memakai pakaian pendek seperti sebelumnya? Bapak dan Ibu tau kan? Ini semua demi kalian, aku Cuma gak mau Pak, ketika aku keluar rumah lalu aku meninggal tanpa sehelai pun hijab tanpa bekal agama dan ilmu agama yang tak aku punya lalu aku diakhirat tersiksa karena dosa. Lalu aku sadar kehidupan dunia ini tak akan selamanya pak, bu. Aku hanya ingin menuntut ilmu agama apa tidak boleh?”
“Kalau kamu mau menuntut ilmu agama dari dulu sudah bapak masukan kamu ke pesantren.. Bapak sebenarnya senang lihat perubahan kamu. Namun, bapak pun khwatair nak. Khawatir seorang bapak terhadap putri semata wayangnya. Bapak sebenarnya tak melarang kamu untuk mengikuti kegiatan tersebut, bapak hanya khawatir kamu ikut ajaran sesat.” Jawab Bapak ketus.
“Lalu, kenapa tak dari dulu saja pak?! Menurutuku menuntut ilmu agama itu dari usia berapapun asal ia menyadari akan pentingnya Agama, Pak.. doakan aku semoga hal seperti itu tak akan terjadi. Bapak dan Ibu tak usah terlalu menghawatirkan perubahaan ku dan sungguh mereka semua itu teman yang baik Pak,Bu percayalah...”
Dengan penuh harap dan berdoa dalam hati semoga mereka berdua mengerti dan mengetahui bahwa ini semua demi kebaikan mereka. Setelah beberapa menit berpikir Bapak pun mengangguk pelan namun, sorot matanya tetap terlihat khwatair memperhatikanku. Lalu Ibu hanya berlalu pergi ke kamar dan memilih tak ingin mengambil pusing. Tapi ku yakin seiring berjalannya waktu Ibu pun akan mengerti dan memahami dari semua perubahan ku ini.
Ada rasa senang dan bahagia sudah mendapatkan kepercayaan dari Bapak, hanya saja Ibu masih bersikap kaku padaku, Ia tampak tak berantusias ketika aku pamit untuk kuliah beliau selalu menitip pesan untuk tidak pulang malam yang secara tidak langsung mengatakan bahwa “Pulang kuliah pulang, gausah ikut kajian-kajian di kampus!”. Aku sudah tau maksudnya. Terlebih saat itu aku bingung pada diriku sendiri apa aku harus berkata “Iya. Atau ...?”

Waktu pun menujukkan pukul 05.00 wib.
“Jiah, tepat sekali ini mata kuliah berakhir jam 5.” gumamku dalam hati sambil memperhatikan jam tanganku. Aku berjalan keluar kelas lalu, ku perhatikan jalanan sesak ramai akan mereka yang ingin pulang dan sampai rumah lebih dulu “kajian atau pulang ya?, kajian aja deh sekalian magrib di kampus, lagi pula jalanan macet banget huh.” Gumamku lagi dalam hati.
“Maafkan aku bu, Aku pulang telat lagi.” duduk dan mendengarkan seorang ustad berbica memberikan materi sungguh membuatku terhanyut serta membayangkan sebanyak ini kan dosa-dosa ku. Sungguh tak akan bisa ku duduk dan mengikuti kajian ini tanpa ridho dan rahmat dari Allah swt. Entah sejak kapan aku memulai namun seakan kaki menuntun ku untuk selalu menyempatkan waktu untuk singgah di sini.
Setelah kajian, kami melalukan Salat Magrib berjamaah lalu, pembacaan tadarus sebentar mengkaji ilmu fikih wanita dan lain sebagainya. Tak lama jam menujukan waktu pulang. Kami bersalaman juga berpelukan saling mendoakan keselamatan agar sampai tujuan. Ya, tujuan kerumah tentunya.
“Fii. Amanillah ya Ukhti..”
“Iya ukh, antum juga..”
Begitulah, kata-kata doa dan perpisahan terakhir kami malam ini. Dengan penuh harap Allah meridhoi setiap langkah yang ku tuju bukan hanya untuk duniawi tapi aku berharap untuk di akherat ku nanti. Setidaknya saat kalian tak menemukan ku di surga aku berharap dapat ditolong oleh kalian teman-teman salehahku.
Aku bergegas menuju parkiran bersiap untuk pulang, ku lihat mereka semua pun telah pergi. Kesunyian ini semakin terasasa saat satu-satu meninggalkan kampus, saat berkumpul seperti kajian tadi aku merasakan kehangatan dan merasa beruntung berada ditengah-tengah wanita yang baik. Di sana aku mendapat sekali pengalaman, banyak cerita hijrah dan hanya Allah yang maha mengetahui apa-apa yang telah kami perbuat.
Di perjalanan, aku merasakan kantuk yang teramat berat. Sebelumnya aku sudah memikirkan jarak tempuh dan resiko apa yang akan terjadi kalau aku pulang terlalu larut malam. Seperti saat ini  tak biasanya aku mengantuk, ku coba untuk menstabilkan kondisi mata, ku tepikan motor dan mengucek mata ku yang tidak gatal. Tak lama ku lanjutkan perjalanan karena jarak kampus dan rumah ku tidak bisa dibilang dekat. “Aku harus kuat!” gumamku dalam hati. “tapi, ini ngantuk banget ya Allah. Astagfirullah..” sedikit oleng motor ku karena kantuk.
Lalu tiba-tiba.
DUAAARRR!!! aku jatuh, beserta motor yang remuk, gelap-gelap yang ku rasa lalu ku coba berkata “Toooloong” dan semua menjadi gelap. Aku tak sadarkan diri.
TIINNNN.. TIIINNN bunyi kelakson ramai ditengah jalan terpenuhi oleh orang-orang yang melihat ku terbaring penuh darah saat ini.
“Woi, tolongin woi!” salah satu warga
“Eh, siapa tuh siapa?”
“Eh, dia mahasiswi di kampus Undarsa ternyata”
“Universitas Darma Sakti pak?”
“Iya, bu.. duh kasian. Yuk kita bawa ke rumah sakit.”
“Astagfirullah, ada apa ya itu? Liat ah..” Desi yang saat itu baru pulang kajian pun sedang menaiki motor melihat ada sebuah keramaian di tengah jalan. Desi pun memilih untuk melihat awalnya hanya ingin tahu ada apa. Tapi setelah ia melihat jaket korban ia merasa mengenalinya.
“Ada apa ya bu?” tanya desi kepada seorang ibu-ibu di jalan.
“Ini kecelakaan neng. Kasian deh, dia kayaknya anak dari kampus Undarsa.”
“Undarsa? Jangan-jangan itu Fatimah? Astagfirullah.. iya itu jaketnya.” Desi pun berlari mendekati fatimah yang terbaring penuh darah.
“Fatimaaahhhhhh... astagfirullah.. Bapak, tolong bawa temen saya segera kerumah sakit ya. Saya akan coba hubungi pihak keluarganya.”
“Neng, temennya?” tanya bapak itu meyakinkan
“Iya pak saya teman dekatnya.”
“Yaudah, yuk neng kita bawa kerumah sakit”
“Iya, pak hati-hati.”

Tak lupa Desi mencoba menghubungi pihak keluarga Fatimah, yang sebentar lagi menuju rumah sakit. Desi pun memberi kabar kepada teman-teman kajian di kampus kalau Fatimah baru saja mengalami kecelakaan dan sekarang sekarat di rumah sakit. Dilihatnya, dari dalam dokter pun keluar dan menjelaskan keadaan yang sebenarnya kepada kedua orang tua fatimah.
“Dimana anak saya dok?” tanya ibu kepada dokter
“Begini bu.. Benturan yang terjadi dikepala anak ibu sangat keras lalu, ia juga banyak kekurangan darah dan saat ini kondisinya sedang kritis.”
“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya bapak kepada desi
“Menurut pengakuan warga Fatimah ngantuk saat mengendarai motor pak. Itu pun saya lewat dan mengetahui kalau yang menjadi korban kecelakaan itu Fatimah.”
“Astagfirullah fatimah..” ibu lemas mendengar penjelasan desi dan memilih untuk duduk menunggu hasil selanjutnya.
“Dok, dok.. pasien sepertinya kritis” Kata suster memberi tahu dokter
“Ya, Allah.. ayo suster..” dokter pun bergegas memastikan
“Kenapa dok? Dok? Kenapa dengan anak saya?”
“Tunggu sebentar ya bu..” larang suster untuk masuk kamar
Tak ada 5 menit suster kembali membuka pintu dan menyuruh kedua orang tua Fatimah untuk masuk ruangan. Didalam ruangan terlihat setengah sadar Fatimah yang terbata-bata mengakatakan “Bu..u..u m..ma.. aaf..in.. A..ku ya.., yang t..idda..aak mm..ee..nnu.rr..u..ti.. ka..t.a.. ibu untuk t..i.dd..aa..k.. p..u.ll.aa..ng.. mmaa...llaa.am... I..kkhhllas... kan kee..per..giii.aanku yaa.. Bu.. dan Ba..aapaak..”
“Tidak, nak.. kamu gak perlu minta maaf. Ibu yang salah seharusnya Ibu memberikan kepercayaan pada mu., Kamu pasti sembuh!!!” kata Ibu meyakinkan
“Asyhadu Al Lailaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah”
“Innalillahi wa inaililalahi rajiun..”



-----------------------------------------------------TAMAT-------------------------------------------------






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komunitas Warung Blogger

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan