Senin, 10 April 2017

Ridho Ibu, Ridho Tuhan Juga.

Ridho Ibu, Ridho Tuhan Juga.
By: Endah Dwis
Fabel Anak



Indonesia Adalah negeri yang kaya. Beragam mahluk hidup ada di dalamnya banyak kita jumpai [m1] di tanah lembab maupun di jalanan. Salahsatu mahluk hidup yang ada di negeri ini adalah Semut. Semut adalah sekelompok hewan pekerja setiap harinya mengangkut makanan dan manisan yang ada disekitaran hutan. Semut[m2]  amat rajin mengais rezeki demi kebutuhan hidup sehari-hari. Semut memiliki ciri berkulit coklat pekat. Di hutan selain semut binatang[m3]  lain yang tak kalah menariknya adalah Belalang hijau. Belalang Hijau juga dikenal dengan Walang Kekek. Walang memiliki ciri bertubuh hijau dan memiliki mata yang lebar yang dapat menlihat target dengan jarak jauh dan masih banyak lagi binatang lainnya.
Walang dan semut adalah dua kawan yang berbeda karakter. Semut Anak baik, penurut dan patuh kepada orang tua. Berbeda jauh dengan si Walang. Ia suka membantah perintah kedua orangtuanya. Seringkali ibunya memintanya untuk membantu pekerjaan rumah, tapi walang selalu menolak. Selalu ada saja alasan yang dibuatnya.
Seekor semut kecil bernama BigAnt dan banyak hewan mengagumi sifat keramahan BigAnt. Walau kecil ia amatlah gesit dan tidak malas bekerja. Saat di jalan BigAnt bertemu dengan Walang.
Walang terlihat sedang duduk santai dibawah pohon, melihat BigAnt kesulitan membawa makanan, ia bukannya membantu malah  mentertawai keras BigAnt.
“Hei, BigAnt rajin sekali kau ini haha...” Tawa Walang keras, sehingga membuat langkah kaki BigAnt berhenti.
“Oh, Iya.. aku harus membawa ini untuk persediaan makanan di rumah nanti”
“Kasihan sekali kau ini! sudah kecil mencari makan sendiri. Memang, kemana orang tua mu?  Lihat aku.. santai menikmati semilir angin”
“Hm.. tapi maaf aku gak bisa bersantai seperti kau, Walang.”
“Iyalah.. Kau inikah miskin dan harus bekerja keras sekali untuk mencari makan, ngomong-ngomong apa itu yang kau bawa?”
“Oh ini sari madu, Walang.. maaf aku tak bisa lama-lama dan harus segera membawa ini ke rumah”
“Baik, pergilah” Tangan Walang melambai-lambai malas, Walang tak sadar bahwa perkataannya telah menyakiti hati BigAnt. Sesampai di rumah BigAnt pun lebih memilih untuk diam dan menyimpan ceritanya rapat-rapat sekan tak terjadi apa-apa.


Berbeda dengan keluarga Walang yang kehidupannya jauh serba berkecukupan. Ditambah Belalang adalah makhluk yang ditakuti oleh para binatang kecil seperti Semut. Walang Kekek ialah belalang yang dikenal memiliki sifat nakal bahkan terhadap sesamanya si Walang kekek ini tidak mau kalah, ingin menang sendiri juga ego serta sombong.
Kehidupan berkucupan membuat Walang Kekek ini menjadi lupa diri, Ibu dan Bapak Walang sudah sering mengingatkan tapi tetap tak digubris oleh sang anak. Bukan hanya sesama teman walang juga terkadang melawan kedua orang tuanya, membentak bahkan membengkang. Tak jarang ibu menangis karena malu memiliki anak seperti Walang. Barulah walang sadar bahwa perlakuannya kelewatan tapi setelah sadar walang pun berbuat itu kembali.
Suatu ketika Wangsit, Wangsit adalah Ibu Walang ia sedang kesulitan membawa air dari sungai untuk diangkut menggunakan ember. Sang ibu mencoba memanggil Walang untuk sekadar membantu. Tapi kenyataannya Walang malah asyik bermain Taplak Batu bersama Belalang lain.
“Walang, bisa bantu Ibu sebentar?” Walang yang sedang asyik bermain pura-pura tak mendengar seruan sang ibu. Lalu ibunya memanggilnya sekali lagi, bahkan dua kali, sampai yang ketiga kalinya. Sang walang ettap pura-pura tidak mendengar. Sampai akhirnya Kumbang, teman walang berkata padanya.
“Lang, dipanggil sama Ibu kamu tuh..”
“Ah! Biarin aja.. paling juga suruh angkat air, males aku”
“Walang, gak boleh gitu! itukan Ibu kamu wajar dia minta tolong kamu”
“Eh! Kamu ini gak usah sok nyeramahin aku! Iya, aku tau dia Ibuku, emang kamu pikir? Ku anggap dia apa?! Udah, akhiri saja permaianan ini, males aku sama kamu!”
“Loh.. yaudah”
Walang merasa kesal terhadap ibunya yang telah mengganggu kesenangannya bermain bersama temannya. Dan membuat keduanya harus adu mulut untuk mengehentikan permainan yang sedari awal baik-baik saja. Walang menuju suara sang Ibu dengan raut muka tidak ramah. Walang terlihat sangat kesal dan dipikirannya saat ini adalah semua salah Ibu.
“Duh nak..., kamu ibu panggil-panggil dari tadi”
“Iya, ada apa sih Bu?! Menggangu saja bisanya! Ibu gak tau aku lagi asyik main sama temen tadi?!”
“Ibu cuma minta tolong angkatin air ini Walang.. Maaf ibu gak tau kalau kamu sedang bermain. Sekarang bisa bantu ibu kan?”
“Ah, gak mau. Ibu bawa ajalah sendiri kan masih bisa!”
“Walang... tapii...” Wangsit mengusap air mata yang tak sengaja jatuh. Bening air mata itu. Bening sema seperti kasih ibu ke Walang tapi kini apa yang terjadi? Perlakuan Walang sudah keterlaluan tapi, ibu walang masih sabar menghadapi sikap anak semata wayangnya itu. Ia tak ingin sumpah serapah keluar dari mulutnya.
Wangsit dan Wangso sedang makan berdua di ruang tamu, mereka adalah Ibu dan Bapak Walang. Mereka makan menggunakan bahan yang didapat Wangso selama di hutan. Wangsit selalu bersyukur atas apa yang telah Wangso berikan untuk keluarga. Tak lama kemudian datanglah Walang  sambil mengusap-usap perutnya yang lapar.
“Bu.. masak apa?”
“Hanya sayur daun yang biasa kita makan nak..”
“Sayur aja? Gak ada jagung? Gak ada sari madu bunga?”
“Gak ada nak.. sudahlah makan seadanya, Bapak hanya dapat itu” Saut Wangso menasehati, namun Walang tidak peduli dan tidak mau memakan-makanan seperti itu. Dipikirnya itu makanan yang membosankan, sekali-kali ia ingin merasakan daging.
“Kamu sekarang mulai membantah kami nak! Apa mau kamu sebenarnya?!” Tanya Wangsit geram.
“Aku hanya ingin makan selain dedaunan! Aku bosan Bu, setiap hari makannya sayur, aku tidak suka masakan ibu tiap hari begitu saja. Aku bosan!” Bentak Walang kepada sang ibu.
Walang melihat jelas air mata ibunya mengalir deras. Sang ibu sudah tak tahan lagi dengan tingkah walang seraya mengucapkan. “Kalau begitu, kau carilah makan sendiri! pergi sana dari rumah ini! Ibu tak sudi punya anak yang tak bersyukur sepertimu!!”
Walang kaget bukan kepalang, bukannya takut dan sedih Walang malah menantang sang ibu. Dengan dada membusung. “Baik, aku akan pergi dari rumah ini, aku ingin hidup bebas dan memakan apapun yang aku mau diluar sana!”.
  Walang pergi tanpa pamit, dalam keadaan amat tersulut emosi dan percaya bahwa ia bisa hidup tanpa kedua orang tuanya.
Lima tahun pun sudah kejadian itu berlalu. Disuatu desa terlihat seekor binatang berjalan dengan tertatih menahan sakit, ia adalah Walang. Walang hidup berpindah tempat. Terkadang untuk makan saja Walang harus memilahnya terlebih dahulu. Pernah suatu hari Walang kercunan daun yang ia makan. Akibat ketidaktahuannya pada tumbuhan beracun. Alhasil ia muntah-muntah dan merasakan sakit perut luar biasa.
Cuaca di hutan memang tidak bisa diprediksi, membuat Walang mau tidak mau berlalu lalang dari satu tempat ketempat lain. Dan saat ini terlihat langit teramat mendung.
Walang mencoba untuk meminta bantuan pada binatang yang lewat, tapi apa balasan mereka? Mereka para binantang melihat Walang bukan merasa iba malah merasa jijik. Karena Walang memiliki luka di kakinya dan kini tengah membusuk.
“Pak, tolongin saya pak... Izinkan saya untuk tinggal di rumah bapak”
“Ih.. saya gak sudi, kau ini siapa? Lihatlah! itu kakimu memiliki luka menjijikan.”
Lebih dari satu atau dua binatang yang lewat Walang mengiba dan meminta tolong tapi, hasilnya nihil kini Walang harus menahan sakit serta pedih. Walang baru menyadari bahwa kesalahannya dulu berimbas kepada kehidupannya kali ini, sering melawan kedua orangtuanya dan membentak-bentak Ibunya. Kini walang bagai menerima hasil dari apa yang telah ia perbuat.
Kedurhakaannya pada sang Ibu membuat hidup Walang semakin menyedihkan. Jauh dari lubuk hati Walang ia amat menyesal, tapi ia tau kembali kerumah saat ini bukanlah hal yang tepat. Apalagi sang ibu kini membencinya.
“Ibu.. aku ingin pulang.. maafkan aku Ibu..” Suara Walang beradu dengan gemercik air hujan melebur dan menjadi satu tumpah bersama kesedihan. “Ibu, Walang  ini anak yang amat sangat durhaka, Walang sadar tanpa Ibu dan Bapak Walang tak bisa apa-apa. Ibu.. Maafkan kesalahan Walang.”
Namun Tuhan telah murka kepada makhluknya yang menentang dan menyakiti hati kedua orangtuanya, terutama kepada ibu. Gelegar petir membuat tubuh renta Walang semakin mengenaskan. Ia berbaring di pojok dedaunan rindang. Menahan sakit yang tak tertahankan. Tanpa teman, tanpa seorang pun menemani Walang.
Tanpa diduga Petir menyambar pohon tinggi dan membuat aliran listrik itu menyebar dan mengenai tubuh Walang. Ia tersambar petir, dan mati seketika. Mati bersama dengan hamparan sesal dan ketidak ridho-an sang ibu. Ia mati sia-sia. Penuh penyesalan dan penuh dosa.
Semoga kita dapat mengambil hikmah dari cerita diatas dan jadilah anak yang berbakti kepada kedua orangtua. Maka hidup pun akan terasa mudah apa yang menjadi cita-cita kita Insyallah dikabulkan karena Ridha Allah adalah Ridha kedua orangtua terutama Ridho Ibu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komunitas Warung Blogger

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan